Seputar Dunia IT dan Fakta Unik Lainnya

Tuesday, 12 November 2013

Tragedi Heysel - 29 Mei 1985


"Kami melihat fans Italia menangis dan mereka memukul-mukul bagian luar bis ketika kami keluar meninggalkan hotel. Ketika kami meninggalkan Brussels, sejumlah orang Italia marah-marah, dan memang bisa dipahami karena ada 39 rekannya yang meninggal dunia. Saya ingat betul ada seorang Italia yang wajahnya tepat di bawah jendela tempat saya duduk. Ia menangis dan marah. Anda bisa rasakan bagaimana ia kehilangan seseorang dalam kondisi seperti itu. Anda pastinya tidak pernah berharap hal itu berakhir demikian."

Itulah kesaksian dari Kenny Daglish, salah satu legenda Liverpool sekaligus saksi mata dalam Tragedi Heysel, sebuah tragedi kelam yang pernah terjadi dalam dunia sepak bola 28 tahun silam. Tercatat 39 orang meninggal dunia dan lebih dari 600 orang mengalami luka-luka pada tragedi tersebut. Tragedi ini juga berbuntut reaksi keras dari UEFA (United European Football Association) berupa penjatuhan sanksi larangan keikutsertaan tim-tim sepak bola asal Inggris di kompetisi Eropa selama lima tahun. Khusus untuk Liverpool, ada tambahan waktu tiga tahun, namun kemudian direvisi menjadi satu tahun saja.

Ya, tragedi Heysel yang terjadi pada tahun 1985 akan selalu dikenang, tidak hanya bagi pendukung The Reds, namun yang paling utama justru fans Juventus karena mereka menjadi korbannya.

Ketika membicarakan pertemuan antara Liverpool dan Juventus di atas lapangan hijau, tentunya tidak akan lepas dari memori kelam yang terjadi pada 1985 itu.



Kronologi Tragedi Heysel


29 Mei 1985, final Liga Champions musim 1984/85 mempertemukan Juventus dan Liverpool di Stadion Heysel, Brussels, Belgia.

Kejadian ini sebenarnya bermula dari saling lempar batu antara suporter Juventus dan Liverpool di salah satu sudut stadion. Sekitar satu jam sebelum kick-off atau tepatnya pada pukul tujuh malam waktu setempat, kedua kelompok tersebut sudah mulai bersitegang. Tidak ada "pembatas" di antara mereka. Mayoritas dari 60.000 penonton yang menyesaki stadion sudah dimabuk minum-minuman pada hari itu. Saksi mata menyatakan, fans Juventus lebih dulu melempar batu ke arah bagian tempat duduk pendukung Liverpool. Tersengat, kubu Liverpool juga ikut melempat batu ke arah lawan. Rupanya kondisi kian memanas. Pendukung Liverpool yang memang unggul jumlah orang mengubah skenario dengan melakukan penyerangan dan merusak pagar pembatas. Padahal, pagar pembatas itu hanya berupa rantai berkawat.



Kalah jumlah, pendukung Juventus berusaha mundur. Namun, mereka terhalang dengan tembok besar. Tembok stadion itu akhirnya runtuh akibat dorongan dan banyak jumlah orang di satu tempat. Akibatnya ada 39 korban meninggal, 32 orang merupakan pendukung Juventus dan tujuh lainnya adalah pendukung netral, yang terdiri dari empat orang Belgia, dua Prancis, dan satu Irlandia Utara. Mereka jatuh dan tertimpa reruntuhan material tembok.


Suporter Juventus yang lain berusaha melakukan balasan, namun usaha mereka dihalangi pihak kepolisian. Yang terjadi justru bentrok antara aparat kemananan itu dan suporter Juventus. Hampir dua jam kejadian bentrok ini berlangsung.

Pertandingan tetap dilangsungkan dan berakhir untuk kemenangan Juventus lewat gol tunggal Michel Platini, yang kini memimpin UEFA.

Kenny Dalglish, yang melihat kejadian tersebut dengan mata kepalanya sendiri saat menjadi pemain, tidak akan pernah melupakannya. "Faktanya, korban fatal tidak dialami fans Liverpool karena mereka bisa lari dengan melintas [arah lain]," ujar Dalglish.

"Kami melihat fans Italia menangis dan mereka memukul-mukul bagian luar bis ketika kami keluar meninggalkan hotel," ujar Dalglish lagi. "Ketika kami meninggalkan Brussels, sejumlah orang Italia marah-marah, dan memang bisa dipahami karena ada 39 rekannya yang meninggal dunia. Saya ingat betul ada seorang Italia, yang wajahnya tepat di bawah jendela tempat saya duduk. Ia menangis dan marah. Anda bisa rasakan bagaimana dia kehilangan seseorang dalam kondisi seperti itu. Anda pastinya tidak pernah berharap hal itu berakhir demikian," ujarnya lagi.



Mereka Yang Menjadi Korban

Berikut ini 39 korban yang meninggal akibat kerusuhan di Heysel :


Rocco AcerraLoris Messore
Bruno BalliGianni Mastrolaco
Alfons BosSergio Bastino Mazzino
Giancarlo BruscheraLuciano Rocco Papaluca
Andrea CasulaLuigi Pidone
Giovanni CasulaBento Pistolato
Nino CerulloPatrick Radcliffe
Willy ChielensDomenico Ragazzi
Giuseppina ContiAntonio Ragnanese
Dirk DaeneckyClaude Robert
Dionisio FabbroMario Ronchi
Jacques Fran├žoisDomenico Russo
Eugenio GaglianoTarcisio Salvi
Francesco GalliGianfranco Sarto
Giancarlo GonnelliGiuseppe Spalaore
Alberto GuariniMario Spanu
Giovacchino LandiniTarcisio Venturin
Roberto LorentiniJean Michel Walla
Barbara LusciClaudio Zavaroni
Franco Martelli



Penyelidikan Kasus

Tragedi ini mendapat perhatian cukup besar. Pihak kepolisian Inggris kemudian turun tangan melakukan penyelidikan dari berbagai sumber. Ada sebuah film berdurasi 17 menit yang dijadikan sumber, begitu juga sejumlah foto yang merekam kejadian. Namun, hanya 27 orang, sebagian besar dari Merseyside, yang ditahan dengan tuduhan penganiayaan dan pembunuhan. 14 orang dari mereka (semuanya dari pendukung Liverpool) akhirnya resmi dinyatakan bersalah dan dipidana, hukuman penjara selama tiga tahun.

Pada 30 Mei 1985, UEFA membuat sebuah pernyataan, melalui penyidik resmi mereka, Gunter Schneider, yang isinya menyebut bahwa kesalahan sepenuhnya ada di pihak Liverpool.

Tragedi ini mengundang perhatian dari Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher. Pada 31 Mei 1985, ia mendesak agar tim-tim Inggris dilarang tampil di Eropa. Rupanya, peringatan itu diamini pihak UEFA dengan mengeluarkan keputusan resmi, semua klub Inggris dilarang bermain di Eropa untuk waktu yang belum ditentukan. Pada 6 Juni 1985, keputusan berlaku untuk di level dunia juga. Satu pekan kemudian, ada pernyataan pengecualian untuk pertandingan persahabatan. Semua sanksi tersebut tidak berlaku untuk timnas Inggris.

Kerugian buat klub-klub Inggris tidak berhenti di sini saja. Ada sebuah keputusan yang cukup berpengaruh pada sepakbola mereka adalah larangan bagi klub-klub Inggris untuk berkiprah di dunia selama lima tahun. Khusus untuk Liverpool, ada tambahan waktu tiga tahun, namun kemudian direvisi menjadi satu tahun saja.

Tregedi Heysel ini cukup berpengaruh bagi sepakbola di dalam negeri Inggris. Klub-klub Inggris yang seharusnya bisa tampil di level Eropa dan dunia, seperti Manchester United, Arsenal, Chelsea, Tottenham, Everton, dan Nottingham Forest, terpaksa tidak bisa bermain.





Tugu Peringatan


Tugu peringatan Tragedi Heysel didirikan dengan total biaya mencapai £140.000. Desainernya adalah seorang seniman asal Prancis. Tugu ini diresmikan tepatnya 20 tahun setelah kejadian tersebut, yakni pada 29 Mei 2005. 

Tugu ini berbentuk jam matahari, yang di sekelilingnya dihiasi dengan batu-batuan yang berasal dari Belgia dan Italia. Ada 39 lampu bersinar untuk masing-masing korban. Ada juga sebuah puisi "Funeral Blues" yang diciptakan penyair Inggris, W. H. Auden.



Pemulihan Hubungan Liverpool-Juventus


Partai perdelapan-final Liga Champions 2005 mempertemukan Liverpool dan Juventus. Ini adalah pertemuan pertama kali setelah 20 tahun lamanya. Ada sejumlah gestur yang ingin menunjukkan agar hubungan keduanya membaik ketika pertandingan itu berlangsung di Anfield. Ian Rush dan Michel Platini membawa sebuah baner yang berisi pesan,  "In Memory and Friendship": In Memoria e Amicizia.


Pihak The Kop juga membuat sebuah koreografi mosaik dengan tulisan "Amicizia (persahabatan)" yang ditujukan kepada para suporter Juventus. Maksdunya adalah permintaan kepada kubu suporter Juventus. Memang ada beberapa tifosi yang menyambut permintaan maaf tersebut, namun ada juga yang masih belum menerimanya karena mereka menganggap kenapa itu baru dilakukan setelah 20 tahun lamannya setelah kejadian menyedihkan itu.


No comments:

Post a comment

BILA ANDA MEMASUKKAN LINK HIDUP, MAKA AKAN OTOMATIS TERDELETE..